Jumat, 11 Oktober 2019

Etika Menulis di Internet

Etika dalam menulis di dunia maya atau internet tergolong pada 3 bagian menurut Prof. DR. Nina W. Syam, M. S, diantaranya adalah:

1) Deskriptif
Bersifat netral dan hanya memaparkan moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan, atau subkultur tertentu. Cara melukiskan tingkah laku dalam arti luas adalah bersifat netral dan hanya memaparkan moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan, atau subkultur tertentu.

2) Etika Normatif
Mendasarkan pada norma, mempersoalkan apakah norma bisa diterima seseorang/masyarakat secara kritis, menyangkut apakah suatu itu benar atau tidak. Terbagi menjadi 2 macam: Umum dan Khusus

3) Metaetika
Menganalisis logika perbuatan dalam kaitannya dengan “Baik” atau “Buruk”.
Penulisan yang baik dan benar di dunia maya atau internet harus memperhatikan tata cara atau aturan yang berlaku, agar penulisan suatu artikel dapat dipahami ataupun dimengerti oleh pembacanya dan tidak menimbulkan SARA (Sosial, Adat, Ras dan Agama).

a.) Mencantumkan sumber atau daftar pustaka
Dalam melakukan penulisan biasanya kita tidak tahu apa yang akan ditulis dalam suatu karya ilmiah. Bagi sebagian orang melihat karya orang lain itu bisa menjadi inspirasi dalam melakukan penulisan. Tetapi kebanyakan dari kita justru disalahgunakan untuk mencontek atau membajak karya pihak lain.
untuk menghindari itu semua, dalam menulis di internet harus mencantumkan sumber tulisan yang akan diambil baik itu dalam bentuk daftar pustaka, karya orang lain yang lebih dahulu di tulis di internet  dll. Pembaca akan simpatik jika karya yang kita tulis dapat dibuktikan dengan kebenarannya dengan mencantumkan sumbernya. Agar tulisan yang kita tulis menjadi lebih bermakna dan berwarna

b.) Tidak membajak karya orang lain
Di era zaman yang serba instan ini, banyak dari kita lebih baik membajak karya orang lain dari pada mencari sumber referensi baik dari buku, karya orang lain, sumber-sumber yang terpercaya dll. Karena begitu instannya di era sekarang orang menjadi malas untuk mencarinya karena apa yang kita cari sudah ada di internet dan tinggal mengambil karya orang lain tanpa mencantumkan sumber yang kita ambil. Lebih baik tidak membajak karya orang lain karena itu akan merugikan diri kita sendiri dan tidak ada kepuasan yang kita dapat.

c.) Tidak mengandung unsur SARA
Keanekaragaman suatu bangsa adalah bagaimana bangsa itu bisa saling menghargai dan menghormati suatu adat atau tingkah laku seseorang dalam kehidupan kesehariannya. Begitu juga dalam menulis pada suatu media masa atau internet harus memperhatikan masalah SARA (Sosial, Adat, Ras dan Agama). Hal ini sangatlah penting untuk menjaga kerukunan antar sesama mahkluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Apabila mengabaikan masalah SARA akan menimbulkan suatu hal yang tidak diinginkan karena merasa harga dirinya atau suatu bangsa sudah diremehkan. Media online seperti internet begitu mudah menyebar sehingga bisa diakses oleh berbagai kalangan dengan begitu cepat dan mudahnya. Untuk itu dalam menulis suatu karya harus diperhatikan kata setiap kata agar orang yang membacanya tidak salah mengartikan penulisan anda. Menulis di internet tidak boleh sembarangan harus memperhatikan untung dan rugi pada penulisan anda.

d.) Tidak merugikan pihak lain atau orang lain
Kerukunan antar sesama merupakan hal yang perlu kita jaga dalam berbagai bidang dan aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kerukunan begitu kental sehingga membuat kehidupan ini lebih nyaman, aman dan tenteram. Begitu juga kerukunan di internet harus tetap terjaga, agar tercipta keharmonisan dari berbagai kalangan yang tidak kita kenal. Dalam menulis suatu karya tidak boleh menjelekkan nama orang lain, nama suatu instansi tertentu, produk yang dijual baik didalam online maupun diluar online karena akan mengakibatkan diri anda sendiri yang pastinya akan dikenakan sanksi. Baik sanksi berupa teguran maupun sanksi berupa tindak pidana. Tetaplah menjaga nama baik orang lain, nama instansi, produk yang sedang dijual dll, baik dan buruknya itu urusan mereka jangan pernah ikut campur kalau tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.

e.) Menggunakan tata bahasa yang sopan, baik dan benar
Banyak dari kita yang melupakan suatu tata bahasa yang harus dan wajib diperhatikan dalam suatu tulisan di internet atau bahkan sering terlupakan. Penggunaan bahasa yang sopan sudah jarang digunakan karena sering menggunakan bahasa–bahasa gaul ataupun bahasa singkatan. Kesopanan dalam berbahasa sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu tulisan kita. Baik dan benarnya suatu tulisan tergantung pada penggunaan tata bahasa  dan cara menuangkan bahasa tersebut kedalam suatu penulisan agar orang yang membacanya menjadi tertarik serta menjadi nilai tersendiri bagi penulisnya.

f) Menggunakan kata kunci (keyword)
Penggunaan kata kunci (keyword) menjadi penentu dari suatu penulisan di internet. Kata kunci sangatlah penting untuk menandai bahwa itu adalah tulisan yang anda buat sendiri dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Dan Tidak boleh menyimpang dari suatu penulisan yang anda buat sendiri karena akan mengakibatkan kesulitan bagi orang lain yang mungkin akan mencari suatu bahan untuk penulisannya yang sesuai dengan kata kunci pada penulisan anda.

g.) Tulisan berisi kondisi yang sebenarnya
Menulis di internet harus menuliskan kondisi sebenarnya yang sedang terjadi pada lingkungan yang kita lihat atau yang kita rasakan sekarang dan tidak mengada–ada dan melebih-lebihkan suatu keadaan yang sebenarnya terjadi ataupun memanipulasi pembaca. Penulis harus jujur dengan tulisannya sendiri dan tidak bohong agar tingkat kepercayaan pembaca yang sudah terbangun tidak menurun atau bahkan luntur terhadap tulisan kita.

h.) Tulisan mudah dimengerti dan dipahami
Dalam menulis berusahalah untuk menampilkan tulisan yang mudah dimengerti, dipahami, dan bisa dijadikan sumber inspirasi bagi pembaca tulisan anda. Untuk itu, gunakan bahasa penulisan yang mudah dimengerti dan dipahami. Sebagai contohnya jangan menggunakan bahasa daerah, mungkin diri kita mengerti tapi orang lain dari berbagai penjuru dunia yang membuka websitenya tidak tahu dan mengerti apa yang dimaksud dari tulisan tersebut. Yang membuat orang lain tidak ingin membacanya karena tidak mengerti makna dari tulisan itu.

i.) Tulisan menarik
Pembaca biasanya melihat tulisan yang kita tulis sebelum membacanya. Seandainya tulisannya menarik maka pembaca akan membacanya dan seandainya tulisan kita tidak menarik pembaca tidak akan membaca karya tulisan kita. Untuk menulis suatu karya tulislah dengan tulisan yang semenarik mungkin yang bisa membuat pembaca tidak akan lari dari tulisan kita.

j.) Memberi inspirasi atau manfaat
Tulisan banyak tidak akan bermakna jika tidak memberi sumber inspirasi atau manfaat bagi pembaca. Lebih baik tulisan sedikit tetapi banyak mengandung makna, sumber inspirasi, dan manfaat bagi pembacanya. Dalam menulis harus diperhatikan manfaat apa yang kita tulis, bukan hanya sekedar menulis belaka yang tidak ada gunanya.

Sumber : 

Jumat, 19 April 2019

The Four Industrial Revolutions

The Four Industrial Revolutions
Industrial Revolutions is defined as the changes in manufacturing and transportation that began with fewer things being made by hand but instead made using machines in larger-scale factories.

The First Industrial Revolution – 1765
Following a slow period of proto-industrialization, this first revolution spans from the end of the 18th century to the beginning of the 19th century. It witnessed the emergence of mechanization, a process that replaced agriculture with industry as the foundations of the economic structure of society. Mass extraction of coal along with the invention of the steam engine created a new type of energy that thrusted forward all processes thanks to the development of railroads and the acceleration of economic, human and material exchanges. Other major inventions such as forging and new know-how in metal shaping gradually drew up the blueprints for the first factories and cities as we know them today.

The Second Industrial Revolution – 1870
Nearly a century later at the end of the 19th century, new technological advancements initiated the emergence of a new source of energy: electricity, gas and oil. As a result, the development of the combustion engine set out to use these new resources to their full potential.  Furthermore, the steel industry began to develop and grow alongside the exponential demands for steel. Chemical synthesis also developed to bring us synthetic fabric, dyes and fertilizer. Methods of communication were also revolutionized with the invention of the telegraph and the telephone and so were transportation methods with the emergence of the automobile and the plane at the beginning of the 20th century. All these inventions were made possible by centralizing research and capital structured around an economic and industrial model based on new “large factories” and the organizational models of production as envisioned by Taylor and Ford.

The Third Industrial Revolution – 1969
Nearly a century later, in the second half of the 20th century, a third industrial revolution appeared with the emergence of a new type of energy whose potential surpassed its predecessors: nuclear energy. This revolution witnessed the rise of electronics—with the transistor and microprocessor—but also the rise of telecommunications and computers. This new technology led to the production of miniaturized material which would open doors, most notably to space research and biotechnology. For industry, this revolution gave rise to the era of high-level automation in production thanks to two major inventions: automatons—programmable logic controllers (PLCs)—and robots.
The first industrial revolution used water and steam to mechanize production, the second used electric energy to create mass production and the third used electronics and information technology to automate production. Today a fourth industrial revolution is underway which builds upon the third revolution and the digital revolution that has been taking place since the middle of the last century. This fourth revolution with exponential expansion is characterized by merging technology that blurs the lines between the physical, digital and biological spheres to completely uproot industries all over the world. The extent and depth of these changes are a sign of transformations to entire production, management and governance systems.

Impact
The social impact of industrialization was profound. For the first time since the Neolithic Revolution, people worked outside of the local environment of their homes. They arose every morning and traveled to their place of employment. This was most often in a workplace known as a factory. The new machinery of the Industrial Revolution was very large and sometimes required acres of floor space to hold the number of machines needed to keep up with consumer demand.

As in all productive revolutions, skill greatly determined the quality of life. The most important aspect of this new economic order was the fact that the skills needed to succeed were in many ways different from those that had been needed in the earlier economy. Artisans had the easiest time transitioning to the new economic paradigm. The fact that they had highly developed manual skills enabled them to adapt to the new machinery much easier than their agricultural counterparts. This was also the case when it came to dealing with the new, enclosed work environment and strict schedules. The worker from the countryside had over the centuries constructed a cycle of labor that followed the seasons. There were times, especially during planting and harvesting, when he was expected to put in long hours, usually from sunrise to sunset. The term "harvest moon," which today is looked upon as a quaint metaphor for autumn celebrations, was in preindustrial Europe a much-needed astronomical occurrence that allowed the farmer extra time to harvest his crops. In turn, the long winter months were a relatively easy time. The lack of electricity and central heating kept most people in bed ten to twelve hours a day, affording them relief from the busy periods of planting and harvesting.

The Fourth Industrial Revolution
The First Industrial Revolution used water and steam power to mechanize production. The Second used electric power to create mass production. The Third used electronics and information technology to automate production. Now a Fourth Industrial Revolution is building on the Third, the digital revolution that has been occurring since the middle of the last century. It is characterized by a fusion of technologies that is blurring the lines between the physical, digital, and biological spheres.

There are three reasons why today’s transformations represent not merely a prolongation of the Third Industrial Revolution but rather the arrival of a Fourth and distinct one: velocity, scope, and systems impact. The speed of current breakthroughs has no historical precedent. When compared with previous industrial revolutions, the Fourth is evolving at an exponential rather than a linear pace. Moreover, it is disrupting almost every industry in every country. And the breadth and depth of these changes herald the transformation of entire systems of production, management, and governance.

The possibilities of billions of people connected by mobile devices, with unprecedented processing power, storage capacity, and access to knowledge, are unlimited. And these possibilities will be multiplied by emerging technology breakthroughs in fields such as artificial intelligence, robotics, the Internet of Things, autonomous vehicles, 3-D printing, nanotechnology, biotechnology, materials science, energy storage, and quantum computing.

Sumber :
https://www.yourdictionary.com/industrial-revolution
http://mukhtarmirakel.blogspot.com/2019/04/the-four-industrial-revolution.html
https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-fourth-industrial-revolution-what-it-means-and-how-to-respond/
https://www.salesforce.com/blog/2018/12/what-is-the-fourth-industrial-revolution-4IR.html

Kamis, 11 April 2019

PLAGIARISME

Definisi

Plagiarisme adalah suatu tindakan seseorang mengklaim hasil karya orang lain sebagai hasil karya dirinya sendiri tanpa ada proses pemberitahuan penggunaan karya kepada yang memiliki karya tersebut. Hal ini tentunya bukan merupakan tata pola berprilaku yang beretika terutama dalam dunia akademis. Bentuk plagiarisme atau penjiplakan atas hasil karya orang lain dapat berupa klaim atas gagasan, ide, karya maupun paten. Penting bagi perpustakaan sebagai institusi yang memiliki tugas men-disemenasikan hasil karya orang lain untuk menjamin bahwa karya yang disebarluaskan bukan merupakan hasil karya plagiarisme. Hal ini juga menjadi tanggung jawab perpustakaan  untuk dapat mencegah tindakan plagiarisme terjadi. Selain itu, hal ini dimaksudkan untuk menghargai sebuah ide, gagasan orisinalitas sang kreator tersebut. Selain itu penting pula untuk melakukan pendidikan terhadap pengguna perpustakaan mengenai tindak plagiarisme. Maka dari itu berikut kami jabarkan secara umum mengenai bentuk plagiarisme dan cara pencegahannya.


Ruang lingkup plagiarisme


berdasarkan beberapa definisi plagiarisme di atas, berikut ini diuraikan ruang lingkup plagiarisme:

1. Mengutip kata-kata atau kalimat orang lain tanpa menggunakan tanda kutip dan tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
2. Menggunakan gagasan, pandangan atau teori orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
3. Menggunakan fakta (data, informasi) milik orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
4. Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri.
5. Melakukan parafrase (mengubah kalimat orang lain ke dalam susunan kalimat sendiri tanpa mengubah idenya) tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
6. Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan /atau telah dipublikasikan oleh pihak lain seolah-olah sebagai karya sendiri.

Tipe plagiarism


Menurut Soelistyo (2011) ada beberapa tipe plagiarisme:

1. Plagiarisme Kata demi Kata (Word for word Plagiarism). Penulis menggunakan kata-kata penulis lain (persis) tanpa menyebutkan sumbernya.
2. Plagiarisme atas sumber (Plagiarism of Source). Penulis menggunakan gagasan orang lain tanpa memberikan pengakuan yang cukup (tanpa menyebutkan sumbernya secara jelas).
3. Plagiarisme Kepengarangan (Plagiarism of Authorship). Penulis mengakui sebagai pengarang karya tulis karya orang lain.
4. Self Plagiarism. Termasuk dalam tipe ini adalah penulis mempublikasikan satu artikel pada lebih dari satu redaksi publikasi. Dan mendaur ulang karya tulis/ karya ilmiah. Yang penting dalam self plagiarism adalah bahwa ketika mengambil karya sendiri, maka ciptaan karya baru yang dihasilkan harus memiliki perubahan yang berarti. Artinya Karya lama merupakan bagian kecil dari karya baru yang dihasilkan. Sehingga pembaca akan memperoleh hal baru, yang benar-benar penulis tuangkan pada karya tulis yang menggunakan karya lama.

Mengapa Plagiarisme bisa terjadi


Beberapa tindakan plagiat terjadi di sekitar kita. Tentu saja hal ini cukup menjadi perhatian kita semua, sehingga menjadi sangat penting bagi kita untuk mengantisipasi tindakan ini. Tindakan plagiat akan mencoreng dan memburamkan dunia akademis kita dan tidak berlebihan jika plagiarisme dikatakan sebagai kejahatan intelektual. Ada beberapa alasan pemicu atau faktor pendorong terjadinya tindakan plagiat yaitu:

1. Terbatasnya waktu untuk menyelesaikan sebuah karya ilmiah yang menjadi beban tanggungjawabnya. Sehingga terdorong untuk copy-paste atas karya orang lain.
2. Rendahnya minat baca dan minat melakukan analisis terhadap sumber referensi yang dimiliki.
3. Kurangnya pemahaman tentang kapan dan bagaimana harus melakukan kutipan.
4. Kurangnya perhatian dari guru ataupun dosen terhadap persoalan plagiarisme.
Apapun alasan seseorang melakukan tindakan plagiat, bukanlah satu pembenaran atas tindakan tersebut.

Menghindari Tindakan Plagiarisme


Beberapa upaya telah dilakukan institusi perguruan tinggi untuk menghindarikan masyarakat akademisnya, dari tindakan plagiarisme, sengaja maupun tidak sengaja. Berikut ini, pencegahan dan berbagai bentuk pengawasan yang dilakukan antara lain (Permen Diknas No. 17 Tahun 2010 Pasal 7):

1. Karya mahasiswa (skripsi, tesis dan disertasi) dilampiri dengan surat pernyataan dari yang bersangkutan, yang menyatakan bahwa karya ilmiah tersebut tidak mengandung unsur plagiat.
2. Pimpinan Perguruan Tinggi berkewajiban mengunggah semua karya ilmiah yang dihasilkan di lingkungan perguruan tingginya, seperti portal Garuda atau portal lain yang ditetapkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi.
3. Sosialisasi terkait dengan UU Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 dan Permendiknas No. 17 Tahun 2010 kepada seluruh masyarakat akademis.
Selain bentuk pencegahan yang telah disebutkan di atas, sebagaimana ditulis dalam http://writing.mit.edu/wcc/avoidingplagiarism, ada langkah yang harus diperhatikan untuk mencegah atau menghindarkan kita dari plagiarisme, yaitu melakukan pengutipan dan/atau melakukan paraphrase.
1. Pengutipan
1. Menggunakan dua tanda kutip, jika mengambil langsung satu kalimat, dengan menyebutkan sumbernya.
2. Menuliskan daftar pustaka, atas karya yang dirujuk, dengan baik dan benar. Yang dimaksud adalah sesuai panduan yang ditetapkan masing-masing institusi dalam penulisan daftar pustaka.
2. Paraphrase
1. Melakukan parafrase dengan tetap menyebutkan sumbernya. Parafrase adalah mengungkapkan ide/gagasan orang lain dengan menggunakan kata-kata sendiri, tanpa merubah maksud atau makna ide/gagasan dengan tetap menyebutkan sumbernya.
Selain dua hal di atas, untuk menghindari plagiarisme, kita dapat menggunakan beberapa aplikasi pendukung antiplagiarisme baik yang berbayar maupun gratis. Misalnya:
1. Menggunakan alat/aplikasi pendeteksi plagiarisme. Misalnya: Turnitin, Wcopyfind, dan sebagainya.
2. Penggunaan aplikasi Zotero, Endnote dan aplikasi sejenis untuk pengelolaan sitiran dan daftar pustaka. [1]
Tips menulis, agar terhindar dari plagiarisme
1. Tentukan buku yang hendak anda baca
2. Sediakan beberapa kertas kecil (seukuran saku) dan satukan dengan penjepit.
3. Tulis judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, tempat terbit, jumlah halaman pada kertas kecil paling depan
4. Sembari membaca buku, salin ide utama yang anda dapatkan pada kertas-kertas kecil tersebut.
5. Setelah selesai membaca buku, anda fokus pada catatan anda
6. Ketika menulis artikel, maka jika ingin menyitir dari buku yang telah anda baca, fokuslah pada kertas catatan.
7. Kembangkan kalimat anda sendiri dari catatan yang anda buat

Sanksi Plagiarisme


Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 mengatur sanksi bagi orang yang melakukan plagiat, khususnya yang terjadi dilingkungan akademik. Sanksi tersebut adalah sebagai berikut (Pasal 70):

Lulusan yang karya ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Ayat (2) terbukti merupakan jiplakan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2010 telah mengatur sanksi bagi mahasiswa yang melakukan tindakan plagiat. Jika terbukti melakukan plagiasi maka seorang mahasiswa akan memperoleh sanksi sebagai berikut:
1. Teguran
2. Peringatan tertulis
3. Penundaan pemberian sebagian hak mahasiswa
4. Pembatalan nilai
5. Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa
6. Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa
7. Pembatalan ijazah apabila telah lulus dari proses pendidikan.






















DAFTAR PUSTAKA

https://library.umn.ac.id/umnlibrary/umnlibrary/content/Plagiarism
http://lib.ugm.ac.id/ind/?page_id=327

Sabtu, 02 Februari 2019

Proposal Bisnis



PROPOSAL BISNIS
Nama Perusahaan        : Dwifa Company's
Alamat                            : Tangerang
Telepon                          :082123140005
Ringkasan Eksekutif
Kami sebagai pengambil keputusan dan produsen berkomitmen menjalankan perusahaan secara professional agar bisa menyelesaikan produk tepat waktu dan bisa menjualnya dengan lancar. Target produksi kami ke depan adalah membuat 3 buah produk, yaitu: Catu Daya, Pembangkit Listrik Tenaga Angin Sederhana dan Sistem pintu otomatis. Ketiga produk akan kami selesaikan dalam waktu lima bulan.
Tujuan
Dalam menjalani usaha, kami mempunyai tujuan yang terencana dengan baik, yaitu tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
Tujuan jangka pendek:
Kami akan membuat produk yang dapat membantu kehidupan manusia. Pangsa pasar kami adalah kalangan umum.
Jangka menengah:
Kami akan membuat produk yang dapat membantu kehidupan manusia dan dapat dipasarkan ke pelosok Indonesia. Pangsa pasar kami adalah kalangan umum, institusi perkembangan teknologi.
Jangka Panjang:
Kami akan terus berinovasi guna menjawab tantangan zaman.
Visi dan Misi Perusahaan
Visi         : Ikut mencerdaskan bangsa dengan IPTEK
Misi        : Membuat produk yang berkulitas
     Berusaha menumbuhkan generasi yang paham teknologi
    Terus berinofasi guna menjadikan produk dalam negeri sebagai primadona di negeri sendiri
Sekilas Perusahaan
Dwifa company's adalah perusahaan Teknologi yang membuat dan mengembangkan komponen dan alat elektronik yang berkualitas.
Kepemilikan Perusahaan
Dwifa company's  adalah perusahaan pribadi dengan kepemilikan Mukhtar Maiti Mirakel.
Produk
Dwifa company's saat ini sedang mengembangkan tiga alat elektronik. Berikut ini adalah produk yang akan dipasarkan.
Catu Daya
Sebuah alat elektronika yang berfungsi sebagai pengubah listrik AC menjadi DC.
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Sederhana
Suatu alat yang berfungsi merubah energi angin menjadi energi listrik dengan konsep yang sederhana.
Sistem Pintu Otomatis
Suatu alat yang digunakan untuk membuat secara otomatis sesuai dengan kebutuhan
Karakteristik dan Perbandingan Kompetitif Produk
Produk kami adalah produk berkualitas yang berbeda dalam bentuk penyajian dan karakteristiknya. Pada setiap alat yang akan dijual menggunakan komponen yang bagus dan packaging yang kami buat akan melindungi alat saat akan dikirimkan.
Analisis Pasar
Maraknya produk yang dijual murah di pasar tentu akan menjadi salah satu kendala dalam pemasaran produk kami. Namun begitu, kami berkeyakinan bahwa produk kami, bisa laku lantaran kami menggunakan komponen dan bentuk alat yang rapi yang tentunya menarik konsumen.
Analisis Industri
Saat ini kami mengetahui bahwa ada beberapa perusahaan Teknologi lokal yang sudah menjual produknya ke pasar, namun begitu kami tetap berkeyakinan kalau produk kami, dapat laku lantaran adanya perbedaan karakteristik.
Peramalan Pasar
Jika kelak tujuan jangka menengah kami sudah tercapai, kami siap bersaing di pasar Internasional. 
Strategi Pemasaran
Strategi kami adalah strategi samudera biru, yang mana perusahaan kami akan bekerja sama dengan perusahaan lain guna mencapai tujuan. Salah satunya adalah bekerja sama dengan beberapa perusahaan Teknologi lokal dalam hal promosi dan pemasaran.
Organisasi
Perusahaan kami terdiri dari divisi-divisi dan memilik tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Divisi Produksi
             Kepala Produksi
                Bertanggung jawab dalam menghasilkan produk yang berkualitas
             Product designer
Divisi Keuangan dan Manajemen
             Kepala keuangan dan manajemen
                Bertanggung jawab dalam menyediaan dana produksi dan operasional
             Akuntan
             Administrasi
Divisi Operasional dan Pemeliharan
             Kepala operasional dan pemeliharaan
                Bertanggung jawab dalam penyediaan dan memelihara perlengkapan kerja. 
             Teknisi
Divisi Pemasaran
             Kepala pemasaran
                Bertanggung jawab dalam penjualan produk dan promosi.
             Humas
             Sales
Estimasi Biaya
1. Anggaran Proyek Catu Daya


No
Alat/Bahan
Satuan
Harga Satuan
Harga
1
Resistor 0.1 ohm
3
Rp.500
Rp.1500
2
Resistor 100 ohm
3
Rp.700
Rp.2100
3
Resistor 270 ohm
2
Rp.1000
Rp.2000
4
Resistor 270k ohm
2
Rp.1500
Rp.3000
5
Capasitor 10 microF
4
Rp.500
Rp.2000
6
Capasitor 4700 microF
6
Rp.4500
Rp.27000
7
Dioda Bridge
3
Rp.5500
Rp.16500
8
Transformator
1
Rp.65000
Rp.65000
9
Transistor (TIP 2955)
3
Rp.3900
Rp.11700
10
IC7805
1
Rp.3000
Rp.3000
11
IC7905
1
Rp.3500
Rp.3500
12
IC7812
1
Rp.2700
Rp.2700
13
IC7912
1
Rp.3000
Rp.3000
14
IC317
1
Rp.2500
Rp.2500
15
IC337
1
Rp.5000
Rp.5000
16
Fuse
6
Rp.1500
Rp,9000
17
Led
4
Rp.500
Rp.2000
18
PCB
3
Rp.7000
Rp.21000
19
Potensiometer
1
Rp.3000
Rp.3000
Total : Rp, 185.500,00-
2. Anggaran Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Angin Sederhana
No
No
Alat/Bahan
Satuan
Harga Satuan
Harga
1
Dinamo Dc
1
Rp. 25000
Rp. 25000
2
Baling-Baling
1
Rp. 3000
Rp. 3000
3
Paralon
1
Rp. 17000
Rp. 17000
4
T Paralon
3
Rp. 3000
Rp. 9000
Total : Rp, 54.000,00-
3. Anggaran Proyek Sistem Pintu Otomatis
No
Alat/Bahan
Satuan
Harga Satuan
Harga
1
Batrai Besar 12V
2
Rp. 32000
Rp. 64000
2
Paket Arduino UNO
1
Rp. 175000
Rp. 175000
3
Engsel Pintu Listrik
1
Rp. 88000
Rp. 88000
 Total : Rp, 327.000,00-
Sehingga, Total Biaya investasi : Rp, 566.500,00-
Biaya Operasional
No
Nama Komponen
Jumlah
Harga Satuan
Total
1
Solder
1
Rp.40.000
Rp.40.000
2
Tissue
10
Rp.10.000
Rp.100.000
3
Teh, Kopi, & Gula
-
-
Rp.200.000
4
Internet
-
-
Rp.500.000
5
Sewa tempat
12 bulan
Rp.500.000
Rp.6.000.000
6
Alat kebersihan
-
-
Rp.200.000
Total
Rp.10.800.000
Total Biaya keseluruhan = total biaya investasi + total biaya operasional
Total Biaya    = Biaya Investasi + Biaya Operasional
= Rp. 566.500 + Rp. 10.800.000
                     = Rp. 11.366.500,00-
Biaya Produksi
1. Catu Daya
    10 buah @ Rp.185.500 = Rp.1.850.000/bulan
  
2. Pembangkit Listrik Tenaga Angin Sederhana
    10 buah @ Rp. 54.000= Rp.540.000/bulan
   
3. Sistem Pintu Otomatis
    10 buah @ Rp. 327.000 = Rp.3.270.000/bulan
   
Pendapatan
Catu Daya perbulan, Rp.200.000 x 50 = Rp. 10.000.000

Pembangkit Listrik perbulan, Rp. 100.000 x 50 = Rp. 5.000.000

Sistem Pintu Otomatis perbulan, Rp.400.000 x 50= Rp. 20.000.000

Total 3 produk sebulan  = Rp.35.000.000
Total 3 produk setahun = Rp. 420.000.000

Keuntungan
Keuntungan = Pendapatan – (Total Biaya )
= Rp. 420.000.000. – (Rp. 11.366.500,00)
= Rp. 408.633.500,00-
                    
Revenue Cost Ratio (R/C)
R/C = Pendapatan : Total Biaya